4 jenis test covid19

9 fakta seputar varian Delta yang kalian wajib ketahui

9 fakta varian Delta Covid-19

Memasuki kuartal ke 2 di tahun 2021 ini, mutasi dari sudah makin tersebar ke seluruh dunia. Selain beradaptasi dengan area yang mereka jangkiti, virus ini semakin lama semakin banyak berkembang. Mutasi-mutasi terbarunya berhasil menjadi momok yang menyeramkan, sehingga membuat WHO, sebagai Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan varian virus corona B.1.617.2 dalam daftar variant of concern (VOC) atau daftar varian virus corona yang perlu diwaspadai. Untuk mengenali varian ini, berikut 9 fakta seputar varian Delta

1. Pertama ditemukan di India

Varian virus corona B.1.617.2 pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020. Terima kasih telah membaca Kompas.com. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Melansir nymag.com, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa ini adalah varian paling menular yang memicu gelombang pandemi di berbagai negara. Sejauh ini, varian ini telah merebak sedikitnya di 62 negara, termasuk Indonesia. Baca juga: Varian Covid-19 Delta Menyebar di Indonesia, Ini Kekhawatiran Epidemiolog

9 fakta varian Delta Covid-19
9 fakta varian Delta Covid-19

2. Penamaan baru

WHO menetapkan penyebutkan varian virus corona B.1.617.2 sebagai varian Delta. Pada 31 Mei 2021, WHO merilis penamaan atau label pada varian virus corona yang diwaspadai. Penamaan ini bertujuan agar penyebutan lebih sederhana dan menghapus stigma pada negara-negara di mana varian pertama kali terdeteksi.

Terdapat empat varian yang masuk dalam kategori diwaspadai, yaitu:

  • Varian B.1.1.7 yang kemudian disebut varian Alpha
  • Varian B.1.351 yang kemudian disebut varian Beta
  • Varian P.1 yang kemudian disebut varian Gamma
  • Varian B.1.617.2 yang kemudian disebut varian Delta

3. Lebih menular

Dilansir dari ndtv.com, para ilmuwan dari India menyebut, varian Delta disebut 50 persen lebih menular daripada varian Alpha atau varian pertama virus corona. Itulah sebabnya para ilmuwan percaya itu menjadi varian dominan secara global.

9 fakta varian Delta Covid-19
9 fakta varian Delta Covid-19

Meski demikian, para ilmuwan mengatakan tidak ada bukti peran varian Delta dalam menyebabkan banyak kematian atau tingkat keparahan kasus yang lebih besar. Baca juga: Update Corona Dunia 7 Juni: Varian Baru Delta | Mutasi Virus Corona pada ODHA

4. Mendominasi Inggris

Selain menyebabkan gelombang kedua Covid-19 di India, varian Delta kini mendominasi Inggris. Departemen Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) menyebutkan, para ahli meyakini bahwa varian Delta kini telah melampaui Alpha.

Data resmi menunjukkan, 278 orang dengan varian Delta pergi ke rumah sakit dalam keadaan darurat minggu ini. Sementara, minggu sebelumnya dilaporkan ada 201 orang dengan varian Delta. Adapun, sebagian besar pasien tersebut belum menerima vaksinasi.

5. Vaksin masih efektif

Menurut laman Pemerintah Inggris, vaksin Pfizer dan AstraZeneca 33 persen efektif melawan virus corona varian Delta. Saat ini, tidak cukup kasus dan periode tindak lanjut untuk memperkirakan efektivitas vaksin terhadap hasil yang parah dari varian B.1.617.2 Sementara, PHE akan terus mengevaluasi varian ini selama beberapa minggu mendatang.

9 fakta varian Delta Covid-19
9 fakta varian Delta Covid-19

“Studi ini memberikan kepastian bahwa 2 dosis dari kedua vaksin menawarkan tingkat perlindungan yang tinggi terhadap penyakit simtomatik dari varian B.1.617.2,” kata Kepala Imunisasi PHE, dr Mary Ramsay.

6. Lebih parah

Melansir ABC News, Kepala Petugas Kesehatan Victoria Brett Sutton mengatakan, ada laporan anekdot tentang tingkat keparahan penyakit yang lebih besar pada anak-anak dibandingkan dengan jenis sebelumnya. Namun, bukti tingkat keparahannya masih awal. Sementara itu, data Inggris terbaru menunjukkan orang lebih mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit ketika terinfeksi dengan varian Delta, dibandingkan dengan varian Alpha. “

Anda dua kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit jika Anda memiliki varian itu dan 1,6 kali lebih mungkin berada di unit gawat darurat dalam waktu dua minggu setelah mengalami infeksi,” kata Epidemiolog Universitas Deakin, Chaterine Bennett.

7. Menyebar di 62 negara

WHO mengakui ada semakin banyak negara yang melaporkan menemukan strain Delta ini pada kasus infeksi yang terjadi di wilayahnya. Jumlah pasti berapa kasus yang dilaporkan terkair varian ini memang tidak diketahui dengan pasti. Namun, varian Delta ini diyakini telah menyebar ke 62 negara, termasuk AS, Inggris, dan Australia. Jumlah ini masih terbilang jauh lebih rendah daripada strain Alpha yang sudah ada di 160 negara.

8. Sudah menyebar di Indonesia

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi, Minggu (6/6/2021), mengonfirmasi ada 32 kasus infeksi virus corona varian Delta di Indonesia.

“Iya, sudah menyebar di Indonesia, ada 32 kasus yang terdeteksi dari genom sekuensing,” kata Nadia seperti diberitakan Kompas.com, Minggu (6/6/2021). Varian ini muncul di 4 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.

9 fakta varian Delta Covid-19 Gejalanya lebih parah

Dihimpun dari NBC Miami (10/6/2021), gejala dari infeksi virus corona varian Delta tak jauh berbeda dari gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus asalnya. Namun, pada infeksi varian Delta, gejala-gejala tersebut akan menjadi lebih parah dan disebut lebih sulit ditangani melalui penanganan medis.

Gejala virus corona varian Delta, sebagaimana disampaikan oleh profesor kedokteran darurat dan kesehatan internasional di Johns Hopkins Universiy, Dr. Bhakti Hansoti, di antaranya:

  • Sakit perut
  • Hilangnya selera makan
  • Muntah
  • Mual
  • Nyeri
  • sendi
  • Gangguan pendengaran
  • Pembekuan Darah

Dalam kebanyakan kasus, pasien yang terinfeksi virus ini juga membutuhkan perawatan medis di rumah sakit, bahkan memerlukan bantuan oksigen dan menderita komplikasi lain.

Dokter penyakit menular di Apollo Hospital India, Abdul Ghafur, mengatakan, prevalensi gangguan pencernaan sebagai gejala yang ditimbulkan oleh infeksi varian Delta lebih besar daripada gejala serupa yang disebabkan oleh strain virus aslinya Akan tetapi, menurutnya, masih dibutuhkan lebih banyak penelitian klinis untuk memastikan hal ini.

sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *